Kamis, 04 Februari 2016

SKS Awal Februari

Tak terasa, Januari berlalu dan Februari pun menjelang. Kegiatan bersepeda Cakwesers  ditutup dengan Sepedaan Minggu Pagi (SMP) ke Badas kemaren. Dan di awal Februari ini dibuka dengan Sepedaan Kamis Sore (SKS). Sampai dengan H-3 belum ada info tujuan SKS kali ini, karena belum sempat didiskusikan karena kesibukan masing-masing. Ketum sepertinya tidak akan siap karena harus menemani istrinya melahirkan di RSUD. Arie300 tak jelas juga bisa ikut apa nggak. Moleq belum ada bunyi-bunyinya. Demikian Pula Almos, Toni dan Rockin. Hanya kostum bersepeda yang sempat didiskusikan di rumah Rockin pada Senin malam, yang hanya dihadiri Almos, Ade, Moleq. Malam itu sudah diputuskan pilihan warna, desain dan Ade akan memfinalisasinya dengan Corel. Hasil finalisasinya nanti akan di dilontarkan ke Whatsapp Group guna meminta pertimbangan Cakwesers untuk dapat segera dieksekusi.
Rancangan Kostum Modifikasi CFB
Kegiatan bersepeda Februari ini sepertinya akan tetap dalam kondisi cuaca berawan dan hujan seperti juga Januari kemaren. Data statistik menunjukkan curah hujan di Kabupaten Sumbawa cenderung menurun dari tahun ke tahun, meski secara konsisten curah hujan tertinggi selalu pada bulan Januari. Pada tahun 2013 jumlah hari hujan tercatat 104 hari, lebih rendah dari tahun 2012 yang tercatat 127 hari. Pada 2014 jumlah hari hujan tercatat hanya 77 hari dengan hari hujan terbanyak pada bulan Januari yaitu sebanyak 17 hari dengan presipitasi 255 mm. Data tahun 2015 dan 2016 belum dapat diakses dari kantor Badan Pusat Statistik (BPS) / Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) BMKG setempat, namun dengan melihat trend-nya, curah hujan pada 2016 ini akan menurun pada pertengahan Februari. Prediksi curah hujan untuk kegiatan SKS 4 Februari ini menurut BMKG NTB diperkirakan akan terjadi hujan ringan. Ini tentunya bukan kendala yang berarti bagi Cakwesers. Ketum yang istrinya baru melahirkan anak ke-2-nya aja pada H-2 menjelang SKS sudah menyatakan siap untuk ikut.
Pada H-1, Ade meng-upload desain jersey sepeda yang sudah difinalisasi. Overall, Cakwesers menerima desain tersebut dan langsung memesan sesuai size masing-masing. Masih kurang jelas juga berapa hari atau minggu jersey itu bisa ready. Karena tanpa jersey group agenda bersepeda ke Bendungan Mamak, bendungan terbesar ke-2 di Kabupaten Sumbawa belum bisa direalisasikan, karena itu syarat yang diminta Toni sebagai tuan rumah di sana nantinya.
Actual Route SKS #1 Februari
Pagi menjelang siang pada hari H, Ketum yang biasanya sudah berkicau di Whatsapp Group Cakwesers belum ada bunyi-bunyinya. Sepertinya Ketum belum bisa meninggalkan RSUD hari ini. Let see ntar siangan lah. Siang menjelang sore Whatsapp Group Cakwesers mulai rame. Disepakati meeting point untuk SKS di Taman Mangga. Ide ngumpul di rumah Almos ditolak halus karena jalan masuk ke Karang Jangkring sedang becek dan berlumpur akibat adanya pemilik lahan yang mengisi tanah urugan ke lahannya menggunakan dump truck. Lalu lalang dump truck yang ratusan kali mengakibatkan jalan yang sudah becek karena tingginya intensitas hujan menjadi rusak dan berlumpur. Dengan pertimbangan agar sepeda Cakweser tidak kotor dan berlumpur Almos mengusulkan di Taman Mangga aja lokasi meeting point-nya, toh rute SKS ga terlalu jauh dan hanya di seputaran kota Sumbawa Besar.
Meeting Point SKS#1 Februari

Pukul 16.00 WITA, Almos sudah prepare, Moleq dan Toni juga di Karang Jangkring. Rockin dan Moko sudah berkicau di Whatsapp minta ketemu di Taman Mangga pada 16.30 WITA. Mendadak hujan turun, lumayan deras. Sempat acara sepedaan mau dibatalkan. Untung hujannya hanya sebentar. Begitu reda Almos, Moleq dan Toni berangkat menuju Taman Mangga. Rupanya di sana Rockin, Moko dan Ade sudah menunggu. Ada Ketum juga, hanya saja kali ini ia pake motor, karena cuman bermaksud mampir melihat Cakwesers SKS.
Setelah lengkap, meski Dika dan Hendri berhalangan ikut. Demikian juga Arie300 si maskot Cakwes Family Bike, kamipun mulai mengayuh pedal ke arah Selatan Kota Sumbawa Besar. Menyusuri Jalan Diponegoro, kemudian Jalan Setiabudi, lalu mendaki ke arah Lawang Desa.
Ngaso sebentar di Lawang Desa
Tanjakannya tidak terlalu terjal hanya saja cukup panjang dan lumayan melelahkan. Tanjakan pertama dari depan RUPBASAN (Rumah Penyimpanan Barang Sitaan Negara) sampai dengan depan pabrik pengolah minyak jarak milik PT. Biogreenland saja sudah 1,8 kilometer. selanjutnya melandai dan kemudian tanjakan menuju Lawang Desa kurang lebih 300 meter. Tanjakan ini sudah kami taklukkan setahun yang lalu, kali inipun meski dengan sedikit ngos-ngosan sampai juga ke Lawang Desa. Yang pertama, seperti biasa, Rockin sudah sampai duluan, kemudian Almos, Moko, Ade, baru kemudian Moleq dan Toni. Kami berhenti sejenak di Lawang Desa untuk minum dan ngerokok. Mendadak hujan turun lagi. 10 menit beristirahat perjalanan kemudian berlanjut, menuruni ruas By Pass depan STM yang lumayan curam membuat kami mesti berhati-hati karena selain jalan yang licin hujannyapun lumayan deras sehingga pandangan ke depan terhalangi. Menyusuri By Pass kami sampai di Simpang Sering, hujanpun reda dan tanpa dikomando Toni dan Moleq berbelok ke kanan, pulang duluan. Akhirnya hanya kami berempat Rockin, Almos, Ade dan Moko yang melanjutkan ke Jempol, tempat kami biasa beristirahat pada saat SKS. 

Nongkrong di Jempol
Sampai di Jempol kami memarkir sepeda dan memesan teh panas, kopi dan sejenisnya untuk menemani kami nongkrong. Tak lama kemudian hujan turun lagi. Kamipun tak bergeming karena pakaian dan sepatu sudah kadung basah. Menjelang magrib, begitu hujan mereda kamipun beranjak pulang. Menyusuri Jalan Garuda menuju rumah masing-masing. Setiba di Bundaran GSC (Garuda Sernu Cenderawasih) Ade berbelok ke Cenderawasih, sementara Rockin, Almos dan Moko terus mengayuh sepeda mengejar waktu magrib yang pendek. Setiba di ujung Jembatan Brangbiji Almos berbelok ke kanan di ruas Kerato - Hijrah menuju Karang Jangkring, sementara Rockin dan Moko yang rumahnya berdekatan terus mengayuh sepeda lurus menuju Kebayan. Magrib itu hujan turun lagi, gerimis, dan SKS di awal Februari ini ditutup dengan gemericik air hujan menerpa bumi.

Minggu, 31 Januari 2016

Badas Sunday Ride

Rencana bersepeda ke luar kota yang semula diagendakan ke Moyo atau Batubulan terpaksa ditunda karena banyak Cakwesers yang berhalangan ikut serta. So terpaksa pake contingency plan yaitu ke Badas sebagai destinasi terakhir bersepeda di bulan Januari. Sampai dengan malam Minggu belum jelas siapa yang bisa ikut, tapi disepakati meeting point-nya di Taman Mangga. Minggu pagi, Almos, Ketum dan Toni on the way ke Taman Mangga. Arie300 yang paling awal berkicau di Group Whatsapp Cakwesers ternyata ga bisa ikut. Moleq dari sehari sebelumnya sudah menyatakan ga bisa ikut karena ada agenda yang harus diselesaikan. Jadilah bertiga dari lingkungan Karang Jangkring yang bersepeda. Cuaca tampak mendung, tapi tidak menyurutkan niat bersepeda Cakwesers. Sesampai di Taman Mangga tampak Rockin dan Ade sudah standby. Dika dan Hendri masih belum nongol. Sambil menunggu Hendri kami nongkrong di Taman Mangga menghirup udara pagi yang segar. Tak lama kemudian tampak Hendri dengan Premiere 3.0-nya menghampiri. Kamipun berangkat. Hanya berenam kami bersepeda hari ini.
Berhenti menunggu hujan reda


Ade & Hendri yang kelaperan
Gerimispun turun di perjalanan kami menuju Badas. Melewati terminal Sumer Payung tampak hujan mulai deras, kamipun mengaso sejenak di warung samping terminal. Kesempatan ini tidak dilewatkan oleh Ade dan Hendri untuk sekalian sarapan, yang lain hanya memesan kopi dan nutrisari hangat. Sambil menyeruput kopi dan sarapan kami menunggu hujan reda. Kamipun ngobrol ngalor ngidul terkait agenda bersepeda selanjutnya baik rencana ikut serta dalam Festival Moyo 2016, maupun Sekongkang Adventure 2016 yang bakal diselenggarakan dalam beberapa bulan ke depan ini. Rockin juga menantang kami untuk merealisasi rencana bersepeda malam ke Uma Buntar. Hendri yang pernah menjadi siswanya Rockin mesam-mesem aja digoda untuk mengulang kembali rute Uma Buntar di Malam hari. Rockin memang unik, apapun yang orang lain belum pernah lakukan ataupun kedengeran rada gila pengen sekali dilakoninya. Bersepeda malam ke Uma Buntar adalah salah satu obsesinya. Let see lah, apakah Cakwesers yang lain cukup "gila" untuk merealisasikannya karena bersepeda di siang hari aja banyak yang berhalangan ikut.
Tanjakan terakhir Badas

Cakwesers in action #1
Tak lama kemudian hujanpun reda. Kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Badas. 
Sesampai di sana Toni mengajak masuk ke area pelabuhan yang kebetulan sedang relatif sepi dari kegiatan bongkar muat. Biasanya kami bersepeda hanya sampai di area entrance pelabuhan terus kembali lagi ke arah Kota Sumbawa Besar menuju Jempol sebagai lokasi 'parkir' sementara. Kamipun masuk ke dalam area pelabuhan. Tak seperti biasanya hari ini hanya ada satu kapal yang tampak sedang nyandar di dermaga. Rockin, Ade dan Hendri langsung ambil posisi untuk foto-foto.  Ketum yang kebagian jadi juru foto sibuk memberi pengarahan terkait angle, posisi dan segala macamnya. Cakwesers pun dengan sigap segera ambil posisi. Sayangnya Rockin tidak prepare dengan kamera yang lebih profesional untuk mendapat hasil yang  lebih bagus. Jadinya dengan kamera handphone-pun jadilah, yang penting action.

Cakweser in action #3

Cakweser in action #2














Toni & Rockin



Jumat, 29 Januari 2016

Next Route, monggo dipilih!

Rute Minggu Pagi, silahkan dipilih, kuning, merah atau ungu

Usul Saran Rockin dan Moleq

Kamis, 28 Januari 2016

SKS - Sepedaan Kelapis Samota

Pasca napak tilas ke Uma Buntar serta mewisuda 2 Cakwesers pendatang baru, agenda bersepeda wajib mingguan Cakwesers direncanakan ke SAMOTA melalui Kelapis. Rute ini adalah rute pendek karena menyesuaikan dengan waktu bersepeda yang juga pendek. Meeting point-nya di rumah Rockin di Kebayan, pukul 16.30 WITA
Rute SKS, 28 Januari 2016
Dari pagi Whatsapp Group Cakwesers sudah berdenting, ngobrol ngalor ngidul serta menanyakan kesiapan SKS. Ketum, Almos, Arie300 dan Ade sudah menyatakan ready, yang lain belum menyatakan konfirmasinya untuk ikut serta. Sementara Om Teddy, personil SABIC yang juga gabung di Group Whatsapp Cakwesers sibuk menggoda Arie300 dengan foto-foto cewek sexy.
Arie300 yang juga dijuluki si Rambo II sampai meneteskan air liur melihat pemandangan seru sekaligus saru tersebut. Di sisi lain Moleq yang Rambo I sibuk mengirimkan khutbah dan pencerahan untuk Cakwesers agar tetap berada di Jalan Yang Lurus. Rupanya selain pandai menyanyi dan hobby karaoke-an Moleq juga menyimpan potensi sebagai da'i.
Pukul 16.00 WITA Almos sudah ready to go, langsung nyamperin Ketum di rumah belakang. Dan, seperti biasa, Ketum masih di kamar mandi, entah buang hajat, entah wudhu atau sekedar cuci muka sehabis bangun dari tidur siangnya yang nyaman. Tak lama kemudian Moleq datang. Setelah meninggalkan pesan di Whatsapp bahwa meeting point-nya di Kebayan, kami menuju rumah Rockin. 
Sesampai Kebayan ternyata Arie300 sudah ada di sana. Ada Moko dan Ade. Hendri yang tak tampak batang hidungnya. Pukul 16.40 WITA, terlambat 10 menit dari jadwal kamipun mengayuh pedal menuju Kelapis - SAMOTA.
Arie300 yang kelelahan
Di tengah perjalanan Arie300 minta istirahat, karena asam lambungnya naik. Entah alasan karena kecapean atau apa, tapi tampak di raut mukanya ia kelelahan. Sempat ia berpikir untuk balik kanan pulang, namun setelah beristirahat dan merasa agak baikan akhirnya dia sepakat untuk meneruskan perjalanan. 

Performanya kali ini berbanding terbalik dengan performanya ketika menuju Uma Buntar Minggu kemaren. Setelah 15 menit beristirahat, perjalanan dilanjutkan kembali. Sementara itu melalui Whatsapp Toni juga sedang bersepeda melalui Brangbiji dan menunggu kami di Gg Tanjung Menangis.
Moko si anak hilang sedang memompa sepeda
Informasi ini kami dapat dari Moleq yang tetap aktif memonitor Whatsapp. Ternyata kemudian Toni sudah melanjutkan perjalanan menuju Jempol. Akhirnya kami sepakat untuk ketemuan di Taman Mangga sebagai tempat mengaso.

Melewati ruas SAMOTA atau Lingkar Utara Kota Sumbawa Besar kami menuju ke arah Brangbiji melewati ujung aspal yang merupakan lokasi bakal Jembatan SAMOTA yang Inshaa Allah tuntas pada tahun 2016 ini. Di ujung aspal ruas Samota tersebut terdapat turunan dengan jalan tanah yang lumayan terjal. Sepertinya kami harus menuntun sepeda ke bawah. Almos yang penasaran pengen ngetes turun dengan sepedanya tanpa menuntun akhirnya mesti terkapar di bawah karena ban belakangnya selip hingga ia terjatuh.


Ujung aspal Samota
Ketum & Moleq 
Almos in action
Luka Almos














Setelah semuanya sampai di bawah, dan luka di lutut Almos dikasih air remasan "sentalo" perjalanan diteruskan menuju Taman Mangga. Sesampai di sana tampak Toni sudah standby. Akhirnya kami beristirahat sambil menikmati udara sejuk Taman Mangga sembari memesan minuman dingin sebagai teman beristirahat. Setelah azan magrib menyapa kamipun beranjak pulang dan SKS-pun tuntas hari ini.


Rehat sejenak di Taman Mangga

Sambil menunggu pesanan datang

Minggu, 24 Januari 2016

Uma Buntar, Napak Tilas Cakwesers

Setelah hampir tiga bulan, sejak November 2015, kegiatan bersepeda Cakwes Family Bike berjalan seolah taken for granted dan tanpa dokumentasi yang berarti, Cakwesers akhirnya sepakat untuk memulai kembali kegiatan bersepeda  yang lebih "serius" pada tahun 2016. 
Meski blog ini terakhir di-update pada bulan November 2015, namun kegiatan bersepeda Cakweser SMP (Sepedaan Minggu Pagi) dan SKS (Sepedaan Kamis Sore) tetap berjalan seperti biasa meski hanya di seputaran Kota Sumbawa Besar. Tour luar kota sudah tidak pernah lagi dilakukan sejak Cakwesers bersepeda ke Semongkat Sampar pasca agenda sepeda gunung Festival Moyo 2015.
Uma Buntar, 2016
Sepanjang tiga bulan terakhir ada banyak perubahan dalam tubuh Cakwesers sejalan dengan bertambahnya usia kehamilan Bi Yani dan Dahlia, Istri Ketum dan Istri Bendahara Cakwesers. Perubahan dimaksud antara lain adanya anggota baru yang bergabung yaitu Dika yang masih jomblo, Ade Mulana, dan terakhir mas Hendri. Selain itu beberapa sepeda legendaris Cakwesers juga sudah berganti antara lain, Monarch milik ketum yang lolos Fesmo 2015 sudah di-upgrade menjadi WimCycle Hotrod 3.1, Premiere 3.0 milik Rockin berganti Polygon Xtrada 3.0 dan yang paling mutakhir Premiere 3.0 milik Almos bersalin rupa menjadi Xtrada 6.0. Cuman Si Biru milik Sencong yang masih standby parkir di teras depan rumahnya diterpa panas dan hujan tak bergerak sejak Fesmo 2015, karena kesibukan baru pemiliknya yang belum memungkinkan untuk ikut bersepeda bersama.
Dengan perubahan-perubahan tersebut, Ketum berinisiatif untuk mewisuda pendatang baru di Cakwes Family Bike ke Uma Buntar, rute luar kota favorit Cakwesers, sekaligus memulai kembali untuk bersepeda ke luar kota setelah sekian lama vacuum karena agenda masing-masing anggota. Minggu 24 Januari 2016 akhirnya disepakati untuk mengeksekusi rute Uma Buntar - Klungkung. 
Cakwesers yang berpartisipasi ke Uma Buntar kali ini ada 9 (sembilan) orang yaitu Ketum, Rockin, Almos, Toni, Arie300, Moleq, Moko si anak hilang, serta Ade dan Hendri yang pendatang baru. Dika yang sedianya ikut akhirnya batal turut serta karena sesuatu dan lain hal yang tidak terjelaskan. Rute Uma Buntar ini dieksekusi dengan sempurna oleh Cakwesers, khususnya oleh Arie300 yang selama ini selalu di posisi belakang. Kali ini dia memimpin di depan tanpa kehilangan stamina. Ini yang menjadi tanda tanya besar buat Moleq, "pasti Arie300 nge-doping sebelum berangkat" ujar Moleq. 
Pasca Uma Buntar, Ketum sedang mengagendakan rute baru untuk dieksekusi 2 minggu ke depan. Kemana? tunggu tanggal mainnya....

Minggu, 25 Oktober 2015

Rute Sepedaan Minggu Pagi

Pasca bersepeda kamis sore yang lalu, Cakwesers kembali merencanakan bersepeda Minggu Pagi di 25/10/2015 namun lagi-lagi semakin ke akhir tahun, setiap weekend ada aja acara dan undangan yang oleh sebagian Cakwesers harus dipenuhi. Moko dengan acara sunatan di tetangganya, Moleq yang harus mengantar siswa PKL-nya ke Mataram, Sencong yang sibuk dengan proyek barunya beternak ayam sehingga tak pernah lagi Cakwesers bersepeda dengan lengkap. 
Rencana rute Sepedaan Minggu Pagi

Sabtu malam di rumah Almos, Cakweser ngumpul-ngumpul membicarakan rute keesokan harinya yang akan dieksekusi, sekalian nyambangin Almos yang sempat kumat vertigo-nya sepulang dari acara Hackathon Merdeka 2.0 di Telkom. Nggak terlalu parah seh cuman membuatnya tak bisa keluar berkendara. Semoga saja besok pagi sudah okay dan bersepeda bersama. Rute yang disepakati adalah rute melewati jalur SKS kemaren, cuman dengan sedikit modifikasi yaitu tembus ke ruas Lingkar Utara Kota Sumbawa Besar. Beberapa waktu yang lalu, ruas ini masih berupa jalan tanah dan kerikil (gravel) namun pada Kamis Sore kemaren tampak sudah beraspal mulus sehingga Cakwesers penasaran pengen tau sudah sejauh mana hotmix jalan tersebut, apakah sudah sampai ruas Lingkar Utara Sumbawa Besar atau hanya sebagian ruas itu yang sudah mulus.
Minggu pagi, alarm Almos berbunyi pukul 05.15 WITA. Almos langsung bangun, sholat subuh dan prepare untuk bersepeda. Tak lama kemudian Ketum muncul, lalu kemudian Arie300. Wawan yang semalam sudah commit sepertinya batal ikut karena belum juga muncul. Demikian juga Moleq, yang hari itu banyak sekali acara yang tak bisa ditinggal. Rockin di Kebayan sudah bilang ready di whatsapp. Setelah pukul 06.30 WITA lewat akhirnya Almos, Ketum dan Arie300 bertiga mengayuh pedal menuju Kebayan. Dari Kebayan kami berempat melanjutkan perjalanan menuju Kelapis, ke arah ruas Lingkar Utara Kota Sumbawa Besar. Jika pada SKS kita berbelok ke kiri, kali ini kami mengambil rute ke kanan. Rute ini terasa asing bagi Cakwesers karena sebagian besar belum pernah melaluinya.
Ruas Kelapis - Lingkar Utara Kota Sumbawa Besar
Almos yang beberapa kali lewat sini menggunakan kendaraan beroda empat dalam rangka memantau ruas Lingkar Utara Kota Sumbawa Besar juga merasa sedikit asing karena ruas ini baru dihotmix. Angin sepoi-sepoi di pagi yang cerah itu terasa sejuk menerpa wajah kami. Kami mengayuh pedal dengan santai. Sesekali kami berhenti sejenak untuk beristirahat untuk mengambil gambar. Arie300 tampak bersemangat, beberapa kali dia tampak ngebut di depan kami sambil melakukan skidding alias melakukan pengereman keras dengan rem belakang sambil membiarkan ban belakang sliding.
Almos sedang mencoba 'bunny hopping'
Rockin dan Almos juga sesekali action dengan melakukan bunny hopping yaitu mengangkat kedua ban sepeda di udara. Sambil menikmati pemandangan di sisi kiri dan kanan ruas jalan tersebut kami terus mengayuh sepeda ke arah ruas Lingkar Utara Kota Sumbawa Besar. Tampak di hadapan kami lahan-lahan yang sudah bersih dan dibuatkan kavlingan oleh pemiliknya untuk dijual. Tak lama lagi kawasan ini akan ramai dengan bangunan-bangunan baik perumahan maupun yang lain-lain pikir kami. Tinggal infrastruktur listrik dan air bersih yang perlu di alirkan jika kawasan ini hendak berkembang. Sambil terus mengayuh pedal akhirnya kami sampai ke tanjakan yang cukup panjang dan terjal.
Berlomba ke puncak tanjakan
"Jangan sampai ada yang turun dari sepeda" seru Almos. Rockin yang selalu terdepan ibarat Pedrosa di MotoGP langsung menambah intensitas kayuhan sepedanya. Kemudian disusul Almos, Ketum dan seperti biasa Arie300. Rockin dan Almos tiba di puncak tanjakan dengan nafas tersengal. Lalu kemudian menyusul Ketum dan Arie300. Di puncak tanjakan kami beristirahat sejenak sambil minum air dari botol perbekalan di sepeda. Ternyata puncak tanjakan ini adalah akhir dari hotmix untuk seterusnya tampak di depan kami ruas jalan yang masih berupa perkerasan dan belum dihotmix.

Setelah beberapa jenak kami melanjutkan perjalanan. Dari puncak tanjakan ini perjalanan kami relatif mudah karena medannya menurun, hanya saja kami harus extra hati-hati karena medannya gravel dan sebagian lagi masih jalan tanah yang berdebu. Jalan terus menurun hingga kami akhirnya sampai ke percabangan jalan Lingkar Utara Kota Sumbawa Besar. Ke kanan mengarah ke Ai Loang dan ke kiri kembali ke Kota Sumbawa Besar. Kami sepakat untuk kembali karena banyak agenda acara yang harus dipenuhi. Tak lama kemudian kami tiba di ujung aspal ruas Lingkar Utara Kota Sumbawa Besar.
Jembatan Teluk Duku Brangbiji
Kami mengikuti jalan tanah menuju turunan yang mengarah ke Sungai Brangbiji. Setibanya di tepian Sungai Brangbiji kami berhenti sebentar untuk melihat pekerjaan konstruksi jembatan samota yang bakal menjadi jembatan fenomenal di kabupaten ini. Untuk tahun ini saja anggaran untuk konstruksi Tahap I pagu anggarannya mencapai 63 Milyar lebih. Setelah mengambil gambar kami melanjutkan perjalanan pulang. Melalui jalan inspeksi kami mengayuh pedal melewati jembatan Teluk Duku yang masih berupa konstruksi kayu, untuk kemudian menyusuri jalan inspeksi tersebut dan keluar di belakang Puskesmas Brangbiji. Kemudian, melalui jalan Cenderawasih kami menuju ke Taman Mangga. Di sini kami berpisah dengan Rockin dan kembali ke rumah masing-masing.

Jumat, 23 Oktober 2015

Rute Baru SKS

Seperti yang sudah disepakati malam sebelumnya, kamis sore 22 Oktober, Cakweser akan bersepeda bersama karena sudah menjadi jadwal wajib. Siang menjelang sore group whatsapp Cakweser sudah mulai ramai.
Ketum mulai ngecek siapa aja yang bisa ikut. Rockin di Kebayan sudah Okay, Moko juga. Moleq dan Arie300 nggak ada kabarnya. Almos masih belum memutuskan untuk ikut apa nggak. Menjelang jam 16.00 WITA Moko sudah ready di Kebayan, via whatsapp dia mengkonfirmasi kesiapannya bersepeda. Rockin dan Ketum juga sudah prepare sementara Almos masih di kantor. Jam 16.30 Almos pulang dan langsung mampir di rumah Ketum untuk melihat kesiapan Cakwesers. Ternyata Ketum dan Moleq sudah ready, sementara Arie300 on the way ujar Moleq. Almos langsung pulang untuk memarkir kendaraan dan prepare untuk bersepeda. Pukul 16.45 WITA Ketum, Almos, Moleq dan Arie300 meninggalkan markas menuju kebayan, tempat Rockin dan Moko berkumpul. Setibanya di Kebayan pukul 16.55 WITA Rockin dan Moko sudah tidak tampak batang hidungnya. Ternyata, setelah dihubungan via handphone mereka bilang kalo mereka capek menunggu dan menyusul ke Markas, oalahhhh.
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju ke Jempol, namun rutenya kali ini melewati Kebayan ke arah simpangan SMPN 4 Sumbawa Besar, melewati ruas jalan non-status yang baru dihotmix menggunakan dana DAK Transdes kami menuju Jalan Cenderawasih. Kami mengayuh pedal kadang menanjak dan menurun melibas ruas jalan berhotmix yang mulus itu. Rupanya Arie300 ketinggalan jauh di belakang. Akhirnya kami sepakat untuk ketemu di Jempol aja, demikian juga dengan Rockin dan Moko. Setibanya di Jempol kami beristirahat dan nongkrong di tempat biasa sambil memesang coffee shake dan air mineral.

Senja di muara kali

Cakweser sedang bercengkrama

Tak lama kemudian tampak Rockin, kemudian Moko, lalu disusul Arie300 bergabung bersama kami. Setelah ngobrol-ngobrol sambil menikmati pemandangan kami akhirnya kembali mengambil sepeda untuk pulang karena hari sudah menjelang magrib.