Minggu, 14 Februari 2016

Mengulang Ai Loang - SAMOTA

Setelah beberapa kali agenda bersepeda Cakwesers terganjal faktor cuaca, di medio Februari Cakwesers berhajat untuk mengulang kembali rute Ai Loang - SAMOTA. Tapi kali ini mampir di Mercusuar di ujung Tanjung Menangis. Di penghujung tahun kemaren, Cakwesers pernah juga Mercusuar hanya saja dokumentasi-nya berceceran dan tidak sempat dituangkan ke blog. Kalo tahun kemaren rutenya melalui Kelapis, SAMOTA terus ke Mercusuar, kali ini rutenya melalui Penyaring, Ai Loang baru kemudian ke Mercusuar. Pulangnya nanti lewat Jalan Lingkar Utara Kota Sumbawa Besar atau lebih dikenal dengan SAMOTA, sehingga rutenya nge-loop tanpa melewati jalan yang sama ketika perginya. Demikian ide Rockin dan Ketum pada Sabtu sore ketika kongkow-kongkow di rumah Ketum, setelah berhari-hari Kota Sumbawa Besar tidak bertemu sinar mentari akibat hujan tak henti mengguyur siang dan malam. Semoga saja agenda Minggu pagi besok bisa mulus tanpa terhalang cuaca yang tak menentu.
Rute Sumbawa Besar - Mercusuar Tanjung Menangis
Lewat Whatsapp Group Cakwesers Rockin sudah menginformasikan rute besok agar Cakwesers yang berkesempatan ikut bisa prepare. Meeting point-nya besok di Taman Mangga pukul 06.00 WITA. Semoga saja banya Cakwesers yang bisa ikut, biar seru di perjalanan. Arie300, si maskot CFB sepertinya akan berhalangan tetap, karena dia sudah mendapat warning dari dokter tempat ia berkonsultasi untuk tidak berolahraga berat sampai dengan kondisinya pulih. Untuk diketahui, Arie300 memang mengalami gangguan di syaraf matanya sehingga dia tidak bisa melihat dengan fokus, hanya obyek-obyek tertentu yang bisa dilihatnya dengan jelas, salah satunya bokong cewek. Sehingga dokter yang menanganinya menyarankan agar dia menjalani operasi di rumah sakit yang representatif di pulau Jawa. Sembari menunggu operasi dia harus mempersiapkan diri dalam arti menjaga kondisi agar nanti operasinya berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Good Luck! Arie300, doa Cakwesers menyertaimu.
Hari Minggu tiba, Almos sudah bangun jam 05.00 WITA dan langsung prepare. Pas keluar gerbang, ada Wawan Brimob nongol, tumben. Rupanya semalam ia sempat memonitor rute yang akan dieksekusi hari ini. Sudah lama dia ga ikut sepedaan gara-gara banyak agenda kantor yang harus diselesaikannya. Apalagi kemaren pas rencana Mr. Jokowi mau ke Sumbawa. Sebagai bagian dari tim pengamanan dia harus standby 24/7. Ketum belum juga tampak batang hidungnya. Demikian pula Toni, sementara Mola sudah mengkonfirmasi tidak bisa ikut. Setelah beberapa jenak menunggu akhirnya Almos, Ketum, Toni dan Wawan siap berangkat menuju Kebayan, tempat yang disepakati sebagai meeting point. Tak dinyana, handphone Ketum berbunyi. Rupanya Moleq pengen ikutan, dan minta kami menunggu. Ketum tampak kesal dengan sikap Moleq yang plin-plan, sepertinya ia sudah ketularan Arie300 yang sekarang berganti julukan menjadi ArieAo, gara-gara sikapnya yang suka plin-plan. Tunggu punya tunggu, Moleq belum juga nongol. Akhirnya kami putuskan untuk berangkat karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.10 WITA. Bisa-bisa ntar kami kesiangan start-nya sementara Cakwesers yang dikebayan sudah dari tadi standby.
Meeting Point di rumah Rockin

Lima menit kemudian kami sampai di Kebayan. Tampak Moko, Ade dan Hendri sudah nongkrong di depan rumah Rockin menunggu kami. Belum lima menit kami sampai Kebayan, Moleq muncul entah dari mana. Rupanya di sprint dari Karang Jangkring mengejar kami yang sudah duluan berangkat. 
Setelah lengkap, bersembilan kami mengayuh pedal menuju ke arah Bukit Permai. Menjelang perempatan Bukit Permai - Raberas Moko memberi isyarat berhenti. Rupanya di situ ada warung tempat jual nasi bungkus. Kamipun bergegas memesan nasi bungkus sebagai bekal di perjalanan nanti. Lepas dari situ kami melanjutkan perjalanan. Melewati Raberas, kami berbelok ke kiri menuju penyaring. Lepas dari Penyaring kami menuju Ai Loang melalui ruas jalan kabupaten Penyaring - Lab. Sawo.
Ruas Penyaring - Lab. Sawo yang tergenang
Terakhir kami ke sini jalan belum tuntas dihotmix. Di tengah perjalanan kami dihadang genangan air di beberapa titik. Ruas jalan ini memang elevasinya sama dengan kawasan persawahan dan tambak di sisi kiri kanannya sehingga begitu air melimpah akibat curah hujan yang tinggi air di persawahan dan tambak tersebut melimpas ke permukaan jalan. Dengan drainase yang juga buruk umur rencana jalan ini pasti tak akan lama.
Kika: Ade, Wawan, Toni dan Moleq
Ini perlu menjadi perhatian pemerintah daerah jika ingin infrastruktur yang terbangun dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka waktu relatif panjang. Sambil terus mengayuh pedal, terdengar kicauan burung yang intens, rupanya nada dering di handphone-nya Moko. Ada Cimot Sabic mo gabung katanya. Akhirnya Moko memperlambat laju sepedanya menunggu Cimot sementara kami terus menuju lokasi di wilayah tambak Dusun Omo untuk beristirahat sekaligus sarapan. Tiba di lokasi kami langsung mencari posisi yang nyaman untuk sarapan sekaligus menunggu Moko dan Cimot. Tak lama berselang mereka sudah muncul dan langsung bergabung.

Medan Ai Loang yang berlumpur
Selesai sarapan dan menarik beberapa batang rokok, kami melanjutkan perjalanan. Belum seratus meter mengayuh pedal tanjakan memutar menuju Ai Loang menghadang. Tanjakan tersebut bukan rintangan buat Cakwesers, hanya Hendri yang setelan rear derailleur sepedanya belum pas mengalami lepas rantai. Setelah melewati tanjakan tersebut kami menemui jalan tanah, becek dan beberapa kubangan lumpur. Perlu ekstra hati-hati untuk melewatinya. Kamipun terus mengayuh pedal, melewati Ai Loang, terus ke arah Seaside Cottage kemudian ke arah perkebunan/ladang milik PT. Ladang Artha Buana. Sepeda kami sudah penuh lumpur yang lengket. Sepertinya ada beban tambahan yang harus kami bawa dengan lumpur yang memenuhi roda, RD, FD dan fork sepeda kami. Roda-rodapun menjadi kehilangan grip (daya cengkeram) akibat lumpur yang mengisi ruang-ruang kosong antara knob pada ban sepeda.
Ngaso sejenak

Medan Tanjung Menangis 
Selepas dari kawasan ladang PT. LABU kami menuju wilayah Tanjung Menangis, lokasi Mercusuar yang dituju. Inilah medan sepeda gunung yang sesungguhnya karena selain tanjakan yang sangat menantang, jalan tanah dan berbatu yang kami lewati juga menawarkan tantangan yang beragam sehingga perlu waspada memilih jalur yang tepat. Tanjakan demi tanjakan terjal kami lewati hingga mencapai pertengahan punggung bukit Tanjung Menangis. Dari situ kemudian kami menurun ke arah Mercusuar. Turunan yang kami hadapi juga curam. Dengan jalan berbatu tampaknya terlalu beresiko untuk tetap mengayuh pedal. Wawan Brimob sudah meluncur di depam setelah menggotong sepedanya turun. Tak lama kemudian kami sampai di lokasi Mercusuar. Kami memarkir sepeda dan melepas lelah di lokasi itu sambil menikmati pemandangan ke arah perairan Pulau Moyo yang spektakuler.
Ketum yang sempat terpeleset di kubangan lumpur
Setelah setengah jam lebih kami beristirahat, kamipun beranjak pulang. Melalui tanjakan terjal berbatu kemudian menuruni turunan curam di kawasan Tanjung Menangis, akhirnya kami sampai di kawasan perkebunan jeruk PT. Ladang Artha Buana. Beberapa kali kami harus melewati kubangan lumpur dan harus ekstra hati-hati karena beberapa dari kami sempat terjerembab jatuh karena terperosok ke bagian yang dalam dari kubangan tersebut. Selepas dari lahan perkebunan tersebut akhirnya kami tiba juga di ruas Lingkar Utara Kota Sumbawa Besar yang sudah ber-hotmix. Melewati ruas jalan sepanjang tujuh kilometer tersebut kami menuju Kota Sumbawa Besar. Di ujung ruas lingkar utara kami kembali menemui jalan tanah di sepanjang tepi sungai Brangbiji yang merupakan jalan inspeksi yang dibangun oleh BWS Nusa Tenggara I. Kami sempatkan untuk beristirahat sejenak di salah satu warung di tepi jalan inspeksi tersebut. Setelah beberapa jenak beristirahat kami melanjutkan perjalanan dan pulang ke rumah masing-masing. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar